Pages

Tampilkan postingan dengan label Massenrempulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Massenrempulu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2013

Pemandangan Gunung Nona

 Dua orang pengunjung menikmati Panorama Gunung Nona di Enrekang, Sulawesi Selatan. TEMPO/Kink Kusuma Rein
Panorama alam nan hijau menyambut pengunjung begitu memasuki kawasan Bumi Massenrempulu—julukan Kabupaten Enrekang—yang berjarak sekitar 270 kilometer dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Suguhan pemandangan Gunung Nona yang selalu mempesona, agrowisata, dan suasana desa yang bersahaja bisa menjadi pilihan liburan nan tenang.

Gunung Nona dalam bahasa Massenrempulu disebut Buttu Kabobong, yang berarti sesuatu yang selayaknya disembunyikan. Jika diartikan per kata, buttu berarti gunung, sedangkan kabobong berarti erotik.

Mudah mengenalinya, berada di sisi kanan jalan jika kita akan ke Tana Toraja dari arah Kota Enrekang, terletak di Desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja. Gigir gunung yang berlipat-lipat kerap kali diasosiasikan mirip alat kelamin wanita, sehingga dinamakan Gunung Nona. Mendengar nama gunungnya, membuat banyak orang penasaran dan menjadi salah satu daya tarik Enrekang.

Ketinggian gunung, atau lebih tepatnya bukit, berkisar 500 meter dari permukaan laut, berada di kaki Buttu Bambapuang. Berdasarkan hasil penelitian geologi, gunung ini terbentuk melalui proses cukup panjang dari batu pasir di dasar laut yang terangkat akibat tumbukan lempeng benua.


Pemandangan Gunung Nona bisa kita saksikan dari Vila Bambapuang, yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Enrekang. Berbagai suguhan makanan khas tradisional bisa menjadi pilihan, di antaranya dangke, keju khas Enrekang; pulu mandoti, beras ketan merah yang kenyal dan wangi; serta nasu cemba, masakan daging sapi atau kerbau yang disajikan berkuah dengan rasa segar dari daun cemba alias asam.

Selain restoran, di tempat ini disiapkan fasilitas kamar yang berhadapan langsung dengan Gunung Nona. Suasananya sangat tenang, cocok untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Tarifnya ada dua pilihan, yakni untuk deluxe Rp 380 ribu semalam dan executive Rp 550 ribu semalam. Tapi kebanyakan turis yang akan mengunjungi Toraja hanya menjadikan tempat ini persinggahan sejenak untuk menikmati pesona Gunung Nona.

Tak hanya suguhan panorama nan hijau, di sisi kiri jalan kita juga bisa menikmati pemandangan gunung batu nan terjal. Gunung Bambapuang, yang memiliki ketinggian 1.157 meter di atas permukaan laut, dipercaya masyarakat sebagai tangga penghubung dari bumi menuju langit.

Salah satu kawasan di lereng Bambapuang juga dipercaya sebagai tempat peradaban manusia Sulawesi Selatan bermula. Masyarakat Bugis sangat menghormati tempat itu. Mereka menyebutnya tana ri galla tana riabbusungi atau negeri suci yang dihormati.

Pekan lalu, saya bersama tiga orang teman bertandang ke Enrekang. Selain panorama alamnya yang indah, suasana desanya yang bersahaja cukup menggoda kami, terutama Desa Bone-Bone—kawasan bebas rokok—di Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang. Pada 14 Agustus lalu, Kementerian Dalam Negeri menobatkan Desa Bone-bone sebagai juara lomba desa tingkat nasional.

Sepanjang jalan menuju Bone-bone, mata dimanjakan oleh pemandangan hijau, ada juga dinding batu yang tegak menjulang, mirip papan tulis raksasa. Di antara dinding itu, ada yang dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan mayat. Sejumlah peti mayat alias duni berbahan kayu tampak masih tersimpan di celah-celah batu.

Tempat penyimpanan mayat itu mirip dengan di Toraja. Tapi, sejak masyarakat Massenrempulu memeluk Islam, makam ini sudah tidak digunakan lagi. Sekarang, tempat ini menjadi obyek wisata.

Hawa sejuk pegunungan langsung menyergap. Dan, lagi-lagi, pemandangan alam memukau di depan mata. Petak-petak sawah terasering terhampar bagai undak-undakan, di antaranya ada landa—lumbung beras khas Enrekang. Landa sudah menjadi pemandangan di desa-desa di Enrekang sejak ratusan tahun lalu. Bentuk rumah panggung ini menjadi tempat cadangan makanan, menjaga kemungkinan terjadi kekeringan dan bencana, serta sebagai tabungan untuk menggelar prosesi adat, seperti pernikahan dan kematian.

Tetap memanfaatkan potensi alam, saat ini pemerintah daerah Enrekang sedang mengembangkan Kebun Raya yang luasnya mencapai 300 hektare, di Dusun Malino, Desa Batumila, Kecamatan Cendana, dan Maiwa. “Di dalamnya ada berbagai jenis tanaman endemik Sulawesi,” kata Bupati Enrekang, La Tinro La Tunrung.

Ada danau kecil dan pohon-pohonnya mulai besar. Dua atau tiga tahun lagi suasana Kebun Raya Enrekang yang berada di sisi kiri jalan akan rampung dan Anda bisa memasukkannya dalam daftar tempat yang akan dikunjungi saat menyisir Pulau Celebes.

Sejarah Kab.Enrekang

Asal kata Enrekang
Sejak abad XIV, daerah ini disebut MASSENREMPULU yang artinya daerah pinggiran gunung atau menyusur gunung, sedang sebutan Enrekang berasal dari ENDEG yang artinya NAIK DARI atau PANJAT merupakan asal mulanya sebutan ENDEKAN.
Sedangkan versi lain mengatan bahwa kata ENREKANG berasal dari bahasa Bugis yang berarti daerah pengunungan. Mengapa orang bugis mengatakan demikian dapat dimengerti sebab lokasi kabupaten Enrekang ± 85 % dari seluruh luas wilayah dikelilingi oleh gunung dan bukit yang membentang disepanjang wilayah kabupaten Enrekang yang luasnya ± 1.786.01 Km².
Hari Jadi kabupaten Enrekang
Pelantikan Bupati Enrekang yang pertama pada tanggal 19 Pebruari 1960 yang juga menjadi hari terbentuknya DAERAH KABUPATEN ENREKANG. Berikut nama-nama Bupati yang pernah dan sekarang yang memerintah di Kabupaten Enrekang :
 
  • Periode 1960 – 1963 dijabat oleh ANDI BABBA MANGOPO
  • Periode 1963 – 1964 dijabat oleh M. NUR
  • Periode 1964 – 1965 dijabat oleh M. CAHTIF LASINY
  • Periode 1965 – 1969 dijabat oleh BAMBANG SOETRESNA
  • Periode 1969 – 1971 dijabat oleh ABD. RACHMAN, BA.
  • Periode 1971 – …… dijabat oleh Drs. A. PARAWANSA (Pjs.)
  • Periode 1971 – 1978 dijabat oleh MUCH. DAUD (± 2 Thn masa non Fictive )
  • Periode 1978 – 1983 dijabat oleh H. ABDULLAH DOLLAR, BA.
  • Periode 1983 – 1988 dijabat oleh M. SALEH NURDIN AGUNG
  • Periode 1988 – 1993 dijabat oleh H. M. AMIN SYAM
  • Periode 1993 – 1998 dijabat oleh H. ANDI RACHMAN
  • Periode 1998 – 6 Oktober 2003 dijabat oleh Drs. H. IQBAL MUSTAFA
    • Wakil Bupati Drs. ZAINI BADAWING
  • Periode 2003 – sekarang dijabat oleh Ir. H. LA TINRO LA TUNRUNG
    • Wakil Bupati H. MUH. LODY SINDANGAN, SH. M.Si.
Sedangkan Pimpinan Daerah dibidang legistalif yang pernah dan sampai sekarang menjabat di Kabupaten Enrekang yaitu :
  • ANDI BABA MANGOPO (merangkap Bupati karena masih DPRD GR) Tahun 1960 – 1963
  • ABD. RAHMAN, BA.
  • H. ARIFIN ALI
  • MAHATMANTONG
  • M. JAFAR
  • IBRAHIM TAQWA
  • H.M. MIEN KAMASE
  • JAMALUDDIN TANTI
  • M. SALEH NURDIN AGUNG sebagai Ketua dan Wakilnya MAYOR ABDUL LATIF.
  • H. ABD. SAMAD MANNAN sebagai Ketua dan Wakilnya MAYOR CHK HUSAIN GANTARAN. SH
  • H.M. ALI RAHIM sebagai Ketua dan Wakilnya Drs. MUSTAFA CAWIDU dan LETKOL MUSTAFA BK.
  • H. JK. SAWATI (periode 1999 – 2004 )
    • Periode 1999 – ….. wakilnya MAYOR CHOIRI
    • Periode 1999 – 2004 Wakilnya MAYOR CHOIRI dan H. ACHMAD ANGGORO
    • Periode 2004 – 2005 Wakilnya SAFRUDDIN, SH dan H. ACHMAD ANGGORO
  • H. AHMAD ANGGOR (periode 2005 sampai sekarang ) wakilnya SAFRUDDIN,SH dan Drs. H. MUSTAKIM
Sejarah Terbentuknya Pemerintahan Kab. Enrekang

Sebelum terbentuknya menjadi Kabupaten berturut-turut mengalami perubahan bentuk :
  1. Menurut sejarah pada mulanya Kabupaten Enrekang adalah merupakan suatu kerajaan besar yang bernama MALEPONG BULAN, yang bersifat MANURUNG terdiri dari 7 kawasann yang lebih dikenal dengan ”PITU MASSENREMPULU” terjadi kira-kira pada abad ke XIV yaitu :
    • ENDEKAN
    • KASSA
    • BATU LAPPA
    • DURI
    • MAIWA
    • LETTA
    • BARINGIN
    Sedangkan pada masa kerajaan berubah menjadi LIMA MASSENREMPULU yakni :
    • ENDEKAN
    • DURI
    • MAIWA
    • KASSA
    • BATU LAPPA
    ( Kira – kira abad ke XVII ) Karena Politik Devide At Impera Pemerintah Belanda memecah daerah ini dengan adanya Surat Keputusan dari Perintah Kerajaan Belanda (KORTE VERKLARING ) dimana kerajaan KASSA dan kerajaan BATU LAPPA dimasukkan ke SAWITTO. Ini terjadi ± Tahun 1905 ( abad XX ), sehingga untuk tetap pada keadaan LIMA MASSENREMPULU tersebut, maka kerajaan-kerajaan yang ada didalamnya dipecah sehingga menjadi :
    • ENDEKAN (Enrekang)
    • MAIWA
    • ALLA
    • BUNTU BATU
    • MALUA
          Kerajaan pada zaman penjajahan Belanda secara administrasi disebutt LANDSHCAP.
    Tiap Landshcap dipimpin oleh seorang Arung yang di bantu oleh SULEWATANG dan PABBICARA ARUNG LILI tetapi kebijaksanaan tetap ditangan Belanda sebagai pegawas (KONTROLEUR).
  1. Zaman penjajahan Belanda tahun 1012 sampai dengan 1941 berubah kembali menjadi ”ONDER AFDELING” yang dikepalai oleh seorang Kontroleur ( Tuan PETORO ).
  2. Zaman Pendudukan Jepang ( 1941 – 1945 ) ONDER AFDELING ENREKANG berubah nama menjadi KANRIKAN, Pemerintahan dikepalai oleh seorang BUNKEM KANRIKAN.
  3. Zaman NICA ( NIT 1946 – 27 Desember 1949 ) kembali Kawasan Massenrempulu menjadi ONDER AFDELING ENREKANG.
  4. Kemudian sejak tanggal 27 Desember 1949 sampai 1960 Kawasan Massenrempulu berubah menjadi KEWEDANAAN ENREKANG dengan pucuk pimpinan Pemerintahan disebut Kepala Pemerintahan Negeri Enrekang ( KPN ENREKANG ) yang meliputi 5 SWAPRAJA :
    • SWAPRAJA ENREKANG
    • SWAPRAJA ALLA
    • SWAPRAJA BUNTU BATU
    • SWAPRAJA MALUA
    • SWAPRAJA MAIWA
Adapun mantan Kepala Pemerintahan Negeri Enrekang (KPN) :
  • ABDUL HAKIM
  • ABDUL RAHMAN, BA.
  • ABDUL MADJID PATTAROPURA
  • NUHUNG
  • A T J O
Yang menjadi catatan atau lembaran sejarah, bahwa dalam perjuangan atau pembentukan Kewadanaan Enrekang ( 5 SWAPRAJA) menjadi DASWATI II / DAERAH SWANTARA TINGKAT II ENREKANG atau KABUPATEN MASSENREMPULU. (ingat bahwa yang disetujui kelak dengan nama Kabupaten Dati II Enrekang mungkin karena latar belakang historisnya). Adapun pernyataan resolusi tesebut :
  1. Pernyataan Partai / Ormas Massenrempulu di Enrkeang pad tanggal 27 Agustus 1956.
  2. Resolusi Panitia Penuntut Kabupaten Massenrempulu di Makassar pada tanggal 18 Nopember 1956 yang diketuai oleh ALMARHUM Drs. H.M. RISA.
  3. Resolusi HIKMA di Pare pare tanggal 29 Nopember 1956.
  4. Resolusi Raja-raja (ARUM PARPOL / ORMAS MASSENREMPULU ) di Kalosi PADA tanggal 14 Desember 1956
Tokoh-tokoh / Sesepuh MASSENREMPULU yang mempelopori terbentuknya Kabupaten Enrekang antara lain :
  • Drs. H. M. RISA
  • Drs. H. M. THALA
  • H. ANDI SANTO
  • PALISURI
  • H. M. YASIN
  • ANDI MARAINTANG
  • ANDI BASO NUR RASYID
  • ANDI TAMBONE
  • BOMPENG RILANGI
  • ANRI ENRENG
  • ABDUL RAHMAN, BA.
  • dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya yang belum sempat disebutkan satu persatu.
Berdasarkan PP No. 34 Tahun 1962 dan Undang-Undang NIT Nomor 44 Tahun 1960 Sulawesi terpecah dan sebagai pecahannya meliputi Administrasi (AFDELING) Parepare yang lebih dikenal dengan nama Kabupaten Parepare lama, dimana kewedanaan Kabupaten Enrekang adalah merupakan salah satu daerah diantara 5 (lima) Kewedanaan lainnya.
Selanjutnya dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 74 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi atau daerah Swatantra Tingkat II (DASWATI II), maka Kabupaten Parepare lama terpecah menjadi 5 (lima) DASWATI II antara lain :
  • DASWATI II ENREKANG
  • DASWATI II SIDENRENG RAPPANG
  • DASWATI II BARRU
  • DASWATI II PINRANG
  • DASWATI II PARE PARE
Kelima gabungan darah tersebut dari dulu dikenal dengan nama : AFDELING PAREPARE.
Dengan terbentuknya DASWATI II ENREKANG berdasarkan Undang-Undang Nomor : 29 Tahun 1959, maka sebagai tindak lanjut pada tanggal 19 februari 1960 dilantiklah saudara H. ANDI BABBA MANGOPO sebagai Bupati yang pertama dan hari terbentuknya DASWATI II Enrekang atau KABUPATEN ENREKANG berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pemerintahan Daerah.
 
Pemerintahan Sekarang
Sehubungan dengan ditetapkannya Perda Nomor : 4,5,6 dan 7 tahun 2002 tanggal 20 Agustus 2002 tentang Pembentukan 4 (empat) Kecamatan Definitif dan Perda Nomor 5 dan 6 Tahun 2006 tentang Pembentukan 2 Kecamatan sehingga pada saat ini enrekang telah memiliki 11 (sebelas ) Kecamatan yang defenitif yaitu :
  1. Kecamatan Enrekang ibukotanya Enrekang
  2. Kecamatan Maiwa ibukotanya Maroangin
  3. Kecamatan Anggeraja ibukotanya Cakke
  4. Kecamatan Baraka ibukotanya Baraka
  5. Kecamatan Alla ibukotanya Belajen
  6. Kecamatan Curio ibukotanya Curio
  7. Kecamatan Bungin ibukotanya Bungin
  8. Kecamatan Malua ibukotanya Malua
  9. Kecamatan Cendana ibukotanya Cendana
  10. Kecamatan Buntu Batu ibukotanya Pasui hasil pemekaran dari Kecamatan Baraka diresmikan oleh Bapak Bupati Enrekang yang dihadiri Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 19 Januari 2007.
  11. Kecamatan Masalle ibukotanya Lo’ko hasil pemekaran dari Kecamatan Alla.
Selanjutnya dari 11 (sebelas) Kecamatan Defenitif terdapat 112 (seratus dua belas ) desa / kelurahan, yang terdiri dari 17 Kelurahan dan 95 desa.

                                                                                      sumber: ALM. ABD. MANNAN TUPPU